Liverpool Pecat Pelatih Set-Piece Usai Masalah Bola Mati Jadi Biang Hasil Buruk

StrategibolaLiverpool resmi memecat pelatih set-piece Aaron Briggs setelah masalah bola mati terus menghantui performa The Reds di Premier League musim ini.

Liverpool Bertindak Tegas: Pelatih Set-Piece Dipecat Usai Masalah Bola Mati Tak Kunjung Tuntas

Liverpool resmi mengambil langkah drastis di tengah musim dengan memecat pelatih set-piece tim utama, Aaron Briggs. Keputusan ini diambil menyusul performa buruk The Reds dalam menghadapi situasi bola mati yang terus berulang dan berdampak langsung pada hasil pertandingan.

Di bawah arahan pelatih kepala Arne Slot, Liverpool sejatinya tampil cukup solid dalam permainan terbuka. Namun, satu kelemahan krusial terus menjadi titik rapuh: pertahanan bola mati yang tak kunjung membaik. Manajemen klub menilai perubahan sudah tidak bisa ditunda demi menjaga konsistensi di papan atas Premier League.

Statistik Bola Mati Jadi Alarm Bahaya

Data menunjukkan masalah Liverpool pada situasi set-piece sudah berada di level mengkhawatirkan. Di luar penalti, The Reds tercatat sebagai salah satu tim dengan jumlah kebobolan terbanyak dari skema bola mati di Liga Inggris musim ini, yakni 12 gol.

Tendangan sudut menjadi sumber masalah utama. Hanya West Ham United yang kebobolan lebih banyak dari skema corner dibanding Liverpool. Lebih ironis lagi, kontribusi bola mati di sisi ofensif juga sangat minim. Liverpool hanya mampu mencetak rata-rata 2,4 gol per 100 situasi bola mati, terburuk kedua di liga setelah Brentford.

Secara defensif, angka kebobolan Liverpool dari bola mati mencapai 8,2 gol per 100 situasi, membuat mereka hanya sedikit lebih baik dari Nottingham Forest dalam kategori ini.

Keunggulan yang Kerap Terbuang Percuma

Dampak dari kelemahan ini sangat terasa dalam beberapa pekan terakhir. Dalam laga melawan Tottenham Hotspur dan Wolverhampton Wanderers, Liverpool sempat unggul nyaman 2-0 dan menguasai jalannya pertandingan.

Namun, gol lawan yang berawal dari situasi bola mati mengubah dinamika laga. Alih-alih meraih kemenangan meyakinkan, Liverpool justru harus bertahan mati-matian hingga peluit akhir. Pola ini berulang dan menjadi sinyal bahwa masalah struktural perlu segera ditangani.

Perjalanan Aaron Briggs di Anfield Berakhir

Aaron Briggs bergabung dengan Liverpool pada Juli 2024 sebagai bagian dari staf Arne Slot. Awalnya, ia bertugas sebagai pelatih pengembangan individu setelah kepergian Vítor Matos. Karena Liverpool gagal menemukan spesialis bola mati yang ideal, tugas tersebut kemudian diberikan kepada Briggs.

Musim panas lalu, klub sempat merombak struktur dengan menunjuk Luiz Fernando Iubel sebagai kepala pelatih individu agar Briggs bisa fokus penuh pada set-piece. Sayangnya, perubahan itu tidak menghasilkan dampak signifikan di lapangan.

Van Dijk Angkat Bicara

Kapten Liverpool, Virgil van Dijk, tak menutupi rasa frustrasinya. Ia menegaskan bahwa masalah utama bukan selalu duel pertama, melainkan fase kedua setelah bola mati.

“Kami sering bertahan cukup baik pada duel awal, tapi kami terlalu sering kebobolan pada fase lanjutan. Itu yang paling menyakitkan,” ujar Van Dijk. “Ini soal latihan, repetisi, dan analisis yang harus kami perbaiki.”

Pernyataan tersebut mencerminkan keresahan di ruang ganti sekaligus menegaskan urgensi perubahan yang akhirnya dilakukan manajemen.

Langkah Awal Menuju Perbaikan

Pemecatan Briggs menjadi sinyal bahwa Liverpool tidak ingin membiarkan satu kelemahan merusak fondasi permainan mereka. Kini, perhatian tertuju pada siapa sosok pengganti yang mampu membenahi sektor bola mati, baik dalam bertahan maupun menyerang.

Bagi Arne Slot, keputusan ini menjadi ujian awal kepemimpinannya di Anfield. Keberhasilan Liverpool dalam sisa musim akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat mereka mampu menutup celah yang selama ini dimanfaatkan lawan.

Comments are closed.