Strategibola.com – Cristiano Ronaldo pernah dianggap sebagai simbol terbesar dari revolusi sepak bola Arab Saudi. Ketika ia memilih bergabung dengan Al-Nassr tiga tahun lalu, dunia langsung melihat Saudi Pro League sebagai “pemain baru” yang siap mengganggu dominasi Eropa. Tidak lama setelah itu, gelombang megabintang menyusul: Karim Benzema, Neymar, Roberto Firmino, Sadio Mane, hingga Aymeric Laporte ikut merapat.
Walaupun banyak yang menilai mereka sudah melewati masa puncak, perpindahan itu tetap terasa sebagai fenomena besar. Bukan hanya soal kualitas pemain, tetapi karena Saudi Pro League menawarkan gaji yang dianggap bisa “mengubah garis hidup”. Bahkan Jordan Henderson, yang dulu dikenal keras memegang prinsip, sempat ikut tergoda.
Namun kini, kekacauan yang dulu ditujukan ke Eropa justru berbalik arah. Bukan lagi soal siapa yang datang dari luar, melainkan drama internal yang membuat Saudi Pro League terlihat seperti liga yang tak stabil. Penyebabnya: Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema, dua nama paling besar di proyek ini.
Ronaldo Mulai Kehilangan Kesabaran
Ronaldo tetap menjadi wajah utama proyek olahraga Arab Saudi. Sejak hari pertama, ia bukan hanya pemain, tetapi juga duta tidak resmi liga dan negara. Dalam berbagai kesempatan, Ronaldo selalu membela kompetisi tersebut, bahkan menyebut Saudi Pro League layak dianggap sebagai salah satu liga terbaik.
Ketika memperpanjang kontraknya pada musim panas lalu, ia menegaskan bahwa liga ini kompetitif, dan hanya orang yang belum pernah bermain di Saudi yang menganggap levelnya rendah. Ronaldo bahkan menyebut dirinya percaya penuh pada proyek jangka panjang, hingga 2034.
Masalahnya, kepercayaan itu mulai retak ketika hasil Al-Nassr memburuk dan transfer yang diharapkan tidak kunjung datang.
Al-Nassr Terlihat Kuat, Tapi Masih Rapuh
Secara statistik, Ronaldo tetap “gila”. Ia sudah mencetak puluhan gol sejak bergabung. Bahkan musim ini, Al-Nassr terlihat sangat kuat setelah mendatangkan Jorge Jesus sebagai pelatih dan menambah nama seperti Joao Felix dan Kingsley Coman untuk memperkuat lini depan bersama Ronaldo dan Sadio Mane.
Awal musim mereka sempurna. Sepuluh kemenangan beruntun sempat membuat Al-Nassr terlihat sebagai kandidat juara paling serius. Ronaldo bahkan sempat menulis optimisme di media sosial bahwa timnya ada di jalur yang benar.
Namun situasi berubah cepat. Pada awal Januari, Al-Nassr mengalami tiga kekalahan beruntun. Keunggulan di puncak klasemen berubah menjadi defisit besar dari Al-Hilal. Kondisi ini membuat Ronaldo dan Jorge Jesus merasa skuad butuh tambahan pemain baru.
Transfer Musim Dingin Jadi Titik Panas
Jorge Jesus sempat menyatakan akan ada perubahan dalam skuad selama bursa transfer musim dingin. Ia ingin minimal dua sampai tiga pemain baru, termasuk gelandang bertahan dan bek sayap, karena jadwal padat membuat tim kelelahan.
Namun ia juga mengakui bahwa perekrutan bisa terbentur batasan anggaran. Pada akhirnya, Al-Nassr hanya mampu mendatangkan nama yang dinilai tidak cukup besar untuk mengubah situasi.
Sementara itu, Al-Hilal justru melakukan langkah yang membuat liga gempar.
Benzema Pindah Gratis ke Al-Hilal dan Bikin Ronaldo Meledak
Al-Hilal sudah lebih dulu belanja besar pada musim panas dengan menghabiskan dana besar untuk Theo Hernandez dan Darwin Nunez. Ketika masuk bursa Januari, mereka kembali menambah beberapa pemain.
Puncaknya adalah transfer yang paling menghebohkan: Karim Benzema pindah dari Al-Ittihad ke Al-Hilal secara gratis.
Di sinilah drama utama muncul. Benzema masih punya sisa kontrak kurang dari enam bulan dengan Al-Ittihad. Ia sebenarnya siap memperpanjang kontrak, tetapi kecewa dengan struktur kesepakatan yang ditawarkan. Menurut laporan yang beredar, Benzema merasa proposal itu tidak menghormatinya karena skemanya membuat ia “bermain tanpa bayaran tambahan” dan hanya menerima kompensasi melalui hak citra.
Benzema lalu menolak bermain, mirip seperti yang kemudian dilakukan Ronaldo. Akhirnya, ia diizinkan pindah ke Al-Hilal tanpa biaya transfer.
Kepindahan itu disebut menjadi pemicu Ronaldo kehilangan kesabaran. Ia merasa Al-Nassr tidak diberi dukungan transfer yang setara, sementara rivalnya mendapatkan megabintang secara gratis.
Isu Konflik Kepentingan Makin Keras
Yang membuat kasus ini semakin panas adalah fakta bahwa Al-Hilal, Al-Nassr, Al-Ittihad, dan Al-Ahli sama-sama dimiliki oleh PIF (Public Investment Fund). Situasi ini menciptakan konflik kepentingan yang jelas karena klub-klub tersebut bersaing di liga yang sama.
Banyak pihak menilai transfer seperti Benzema ini memunculkan dugaan favoritisme, karena “transfer internal” jadi jauh lebih mudah dilakukan jika pemiliknya sama.
Di sisi lain, ada juga informasi bahwa pengeluaran Al-Hilal dalam bursa transfer musim dingin dibiayai secara pribadi oleh Pangeran Al-Waleed bin Talal. Hal ini memunculkan istilah baru di kalangan pengamat: “sponsor emas”, yaitu dukungan dana besar yang hanya mengalir ke klub tertentu.
Ronaldo Mogok Main, Liga Terlihat Buruk
Dalam laporan yang beredar, Ronaldo dikabarkan menolak bermain dalam laga liga melawan Al-Riyadh sebagai bentuk protes. Ini jelas menjadi citra buruk untuk Saudi Pro League, karena Ronaldo adalah ikon utama mereka.
Ironisnya, Al-Nassr tetap menang tanpa Ronaldo, lewat gol tunggal Sadio Mane. Selisih poin dengan Al-Hilal pun menyempit. Namun hasil pertandingan hampir tak dibicarakan, karena sorotan publik sepenuhnya tertuju pada drama Ronaldo dan transfer Benzema.
Kini pertanyaan terbesar adalah apakah Ronaldo akan kembali bermain dalam laga besar melawan Al-Ittihad. Pertandingan itu diprediksi akan panas karena melibatkan dua kubu yang sama-sama marah: pendukung Al-Nassr yang merasa liga tak adil, dan pendukung Al-Ittihad yang kehilangan bintang mereka.
Saudi Pro League Terancam Oleh Proyeknya Sendiri
Selama ini, Saudi Pro League dikenal sebagai liga yang mengganggu pasar Eropa. Tetapi kini, justru megabintang yang mereka datangkan menjadi sumber kekacauan internal.
Ronaldo masih menjadi daya tarik utama. Walau sudah 40 tahun, pengaruhnya tetap luar biasa. Namun drama seperti ini bisa mengaburkan kompetisi yang sebenarnya sedang seru, terutama karena persaingan gelar musim ini melibatkan tiga tim besar dengan jarak poin yang ketat.
Jika Saudi Pro League ingin tetap dianggap serius, mereka harus membuktikan bahwa kompetisi ini bukan hanya soal uang dan nama besar, tetapi juga soal transparansi, keadilan, dan profesionalisme. Jika tidak, liga yang dulu ingin “mengguncang Eropa” justru akan runtuh oleh konflik dari dalam.




