Jamie Redknapp Soroti Masalah Arsenal Meski Kalahkan Chelsea

Jamie Redknapp Soroti Masalah Arsenal Meski Kalahkan Chelsea

Strategibola – Kemenangan Arsenal atas Chelsea di leg pertama semifinal Carabao Cup 2025/2026 memang terlihat manis di atas kertas. Skor 3-2 yang diraih di Stamford Bridge pada Kamis (15/1/2026) dini hari WIB memberi keunggulan penting bagi The Gunners. Namun di balik hasil positif itu, muncul catatan taktis krusial yang berpotensi menjadi masalah jangka panjang.

Pengamat sepak bola Inggris, Jamie Redknapp, menilai Arsenal masih menyimpan persoalan serius di lini serang. Fokus kritiknya mengarah pada hubungan permainan antara Bukayo Saka dan striker anyar mereka, Viktor Gyokeres.

Kemenangan Penting Arsenal yang Tak Sepenuhnya Ideal

Arsenal tampil efektif dan klinis saat menghadapi Chelsea. Tiga gol yang bersarang ke gawang tuan rumah menjadi bukti bahwa pasukan Mikel Arteta mampu memanfaatkan celah di pertahanan lawan. Gyokeres bahkan ikut mencatatkan namanya di papan skor, menandai kontribusi awal yang menjanjikan di laga besar.

Namun, Redknapp menegaskan bahwa hasil tersebut belum mencerminkan performa terbaik Arsenal. Menurutnya, masih ada ketidakharmonisan gaya bermain yang terlihat jelas, khususnya dalam pola suplai bola ke penyerang tengah.

Bukayo Saka Dinilai Jadi “Masalah” Tak Terduga

Dalam analisisnya bersama Sky Sports, Redknapp menyebut Bukayo Saka sebagai “masalah besar” — bukan bagi lawan, melainkan bagi rekan setimnya sendiri. Pernyataan ini tentu mengejutkan, mengingat Saka selama ini dikenal sebagai motor serangan Arsenal.

Masalahnya terletak pada karakter bermain Saka yang berkaki kiri namun ditempatkan di sayap kanan. Pola ini membuat Saka lebih sering melakukan cut inside ke tengah, alih-alih melepaskan umpan silang cepat ke kotak penalti.

“Ini sebenarnya malam yang sangat bagus bagi Viktor Gyokeres,” ujar Redknapp. “Tapi jenis umpan yang ia butuhkan sering kali tidak datang dari sisi kanan.”

Gaya Bermain yang Tak Selaras dengan Kebutuhan Striker

Redknapp menjelaskan bahwa Gyokeres terbiasa menerima suplai dari bek atau winger berkaki natural di sisi lapangan. Umpan silang datar atau bola cepat ke area enam belas meter menjadi makanan utama striker asal Swedia tersebut.

Sebaliknya, kecenderungan Saka untuk mengontrol bola dan memotong ke dalam justru memperlambat tempo serangan. Situasi ini membuat Gyokeres kerap kehilangan momentum dan ruang ideal untuk menyelesaikan peluang.

“Ketika Bukayo sampai di posisi itu, dia lebih ingin mengembalikan bola ke kaki terkuatnya,” jelas Redknapp. “Di situlah frustrasi Gyokeres muncul.”

Momen Frustrasi Gyokeres Jadi Sorotan

Ketidaksinkronan ini terlihat jelas pada salah satu momen krusial sebelum gol Ben White. Gyokeres sempat mengangkat tangan, meminta umpan silang cepat, namun Saka memilih untuk menahan bola dan mengubah arah serangan.

Bagi Redknapp, situasi seperti ini bisa berdampak besar jika terus berulang. Seorang striker dengan naluri gol tinggi membutuhkan keputusan cepat dari rekan-rekannya, terutama pemain sayap.

Peringatan untuk Leg Kedua Semifinal

Selain membahas aspek individu, Redknapp juga memberikan peringatan keras kepada Arsenal terkait hasil akhir pertandingan. Kemenangan 3-2 dinilai belum sepenuhnya aman untuk modal leg kedua.

Gol telat Chelsea dianggap memberi harapan baru bagi tim asuhan Liam Rosenior. Padahal, menurut Redknapp, Arsenal sebenarnya punya peluang besar untuk menutup laga dengan skor lebih meyakinkan.

“Ini seharusnya menjadi pertandingan yang bisa mereka kendalikan sepenuhnya,” katanya. “Gol Chelsea di akhir laga justru memberi mereka kepercayaan diri.”

Arsenal Tetap Unggul, Tapi PR Masih Banyak

Meski demikian, Redknapp mengakui bahwa Arsenal tetap akan menerima hasil ini sebelum pertandingan dimulai. Menang di kandang Chelsea bukanlah perkara mudah, apalagi di fase semifinal kompetisi domestik.

Namun, jika ingin melangkah mulus ke final Carabao Cup, Arsenal dituntut melakukan evaluasi serius. Sinkronisasi antara Saka dan Gyokeres menjadi salah satu pekerjaan rumah utama yang harus segera dibenahi Mikel Arteta.

Comments are closed.