Strategibola– Timnas Belanda memasuki era baru. Xavi Hernandez resmi ditunjuk sebagai pelatih Oranje menggantikan Ronald Koeman dengan kontrak jangka panjang hingga Piala Dunia 2030.
Penunjukan Xavi menjadi langkah besar Belanda setelah perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 berakhir lebih cepat dari harapan. Oranje tersingkir pada babak 32 besar setelah kalah dari Maroko, hasil yang kemudian diikuti berakhirnya masa kepelatihan Koeman.
Kini Federasi Sepak Bola Belanda memberikan proyek jangka panjang kepada Xavi. Mantan pelatih Barcelona tersebut diproyeksikan memimpin Oranje dalam dua agenda utama, yakni Euro 2028 dan Piala Dunia 2030.
Bagi Xavi, kesempatan ini sekaligus menandai kembalinya sang pelatih ke pinggir lapangan setelah tidak menangani tim sejak meninggalkan Barcelona pada 2024.
Xavi Kembali Melatih Setelah Dua Tahun
Nama Xavi sudah tidak asing di dunia sepak bola. Namun, sejak berpisah dengan Barcelona pada 2024, mantan gelandang timnas Spanyol tersebut memilih mengambil jeda dari dunia kepelatihan.
Berbagai tawaran disebut sempat datang, tetapi Xavi memilih menunggu proyek yang sesuai dengan filosofi dan ambisinya.
Kesempatan tersebut akhirnya datang dari Belanda.
Pada usia 46 tahun, Xavi kini mendapatkan tantangan berbeda karena untuk pertama kalinya dalam karier kepelatihannya ia akan menangani sebuah tim nasional.
Berbeda dengan sepak bola klub, Xavi tidak akan memiliki waktu setiap hari bersama pemain. Kemampuannya membangun sistem permainan dalam periode persiapan yang relatif singkat akan menjadi salah satu ujian terbesar.
Belanda Cari Era Baru Setelah Piala Dunia 2026
Penunjukan Xavi juga tidak terlepas dari hasil mengecewakan yang dialami Belanda di Piala Dunia 2026.
Oranje datang ke turnamen di Amerika Utara dengan ambisi besar. Namun, perjalanan mereka terhenti pada babak 32 besar setelah dikalahkan Maroko.
Hasil tersebut membuat Belanda membutuhkan penyegaran.
Dengan kontrak sampai 2030, Xavi mendapatkan waktu yang cukup panjang untuk melakukan regenerasi sekaligus membangun identitas permainan yang diinginkannya.
Target pertama tentu mengembalikan Belanda menjadi salah satu kekuatan utama Eropa pada Euro 2028.
Setelah itu, proyek akan diarahkan menuju target terbesar: Piala Dunia 2030.
Xavi dan Hubungan Kuat dengan Filosofi Sepak Bola Belanda
Meski berasal dari Spanyol, filosofi sepak bola Xavi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Belanda.
Pendidikan sepak bolanya di Barcelona dibangun melalui warisan permainan yang banyak dipengaruhi Johan Cruyff dan Rinus Michels.
Konsep penguasaan bola, permainan posisi, pergerakan tanpa bola dan keberanian menyerang yang identik dengan Barcelona memiliki akar kuat dari pemikiran sepak bola Belanda.
Xavi juga pernah mendapatkan pengalaman langsung bekerja di bawah pelatih-pelatih asal Belanda.
Louis van Gaal merupakan pelatih yang memberikan kesempatan kepada Xavi untuk menjalani debut bersama tim utama Barcelona. Setelah itu, Xavi juga berkembang menjadi pemain penting ketika Barcelona ditangani Frank Rijkaard.
Hubungan historis tersebut membuat penunjukan Xavi menjadi menarik. Belanda bukan sekadar mencari pelatih dengan nama besar, tetapi figur yang secara filosofi memiliki banyak kesamaan dengan identitas Oranje.
Sepak Bola Menyerang Jadi Fondasi Xavi
Salah satu perubahan yang paling menarik untuk dinantikan adalah bagaimana Xavi membentuk permainan Belanda.
Xavi dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan penguasaan bola dan positional play. Timnya dituntut mengontrol pertandingan melalui sirkulasi bola sekaligus menciptakan keunggulan jumlah pemain di area tertentu.
Filosofi tersebut sejalan dengan tradisi Belanda.
Oranje sejak lama dikenal sebagai salah satu negara yang mengembangkan sepak bola menyerang, mulai dari konsep Total Football hingga berbagai perkembangan permainan posisi modern.
Xavi ingin mempertahankan identitas tersebut.
Namun, kemenangan tetap menjadi prioritas. Tantangan Xavi adalah membuat permainan Belanda bukan hanya menarik untuk disaksikan, tetapi juga efektif ketika menghadapi pertandingan besar.
Pengalaman Sukses Bersama Al Sadd
Karier kepelatihan Xavi dimulai bersama Al Sadd pada 2019 setelah mengakhiri perjalanan panjangnya sebagai pemain.
Periode di Qatar menjadi laboratorium pertama bagi Xavi untuk menerapkan filosofi sepak bolanya sebagai pelatih.
Ia berhasil mempersembahkan sejumlah trofi domestik dan membangun reputasi sebagai salah satu pelatih muda yang menarik perhatian Eropa.
Kesuksesan tersebut kemudian membuka jalan untuk kembali ke klub yang membesarkan namanya.
Membawa Barcelona Kembali Juara LaLiga
Pada November 2021, Barcelona menunjuk Xavi sebagai pelatih untuk menggantikan Ronald Koeman.
Situasi Barcelona ketika itu tidak mudah. Klub sedang menjalani masa transisi setelah kepergian Lionel Messi dan menghadapi berbagai persoalan dalam membangun kembali skuad.
Xavi perlahan mengembalikan Barcelona ke jalur persaingan.
Puncaknya terjadi pada musim 2022/2023, ketika Barcelona berhasil merebut gelar LaLiga. Xavi juga membawa Blaugrana memenangkan Piala Super Spanyol.
Namun, perjalanan tersebut akhirnya berakhir pada 2024.
Setelah meninggalkan Camp Nou, Xavi mengambil waktu untuk beristirahat sebelum akhirnya menerima proyek baru bersama Belanda.

Tantangan Berbeda Menanti Xavi di Oranje
Menangani tim nasional akan memberikan tantangan yang sangat berbeda dibandingkan Barcelona maupun Al Sadd.
Xavi tidak dapat membeli pemain untuk menyesuaikan kebutuhan sistemnya. Ia harus membangun permainan berdasarkan talenta yang tersedia di Belanda.
Selain itu, waktu latihan di sepak bola internasional jauh lebih terbatas.
Karena itu, kemampuan Xavi menyederhanakan konsep taktikalnya akan sangat menentukan.
Jika berhasil, kombinasi antara filosofi penguasaan bola Xavi dan tradisi sepak bola menyerang Belanda bisa menghasilkan tim yang sangat menarik.
Euro 2028 Jadi Ujian Besar Pertama
Xavi tidak langsung dibebani Piala Dunia 2030.
Euro 2028 akan menjadi ujian besar pertama untuk melihat perkembangan proyeknya bersama Oranje.
Turnamen tersebut dapat menjadi tolok ukur mengenai seberapa jauh Xavi berhasil membangun sistem, menentukan pemain inti, serta mengembangkan generasi baru Belanda.
Hasil di Euro 2028 juga akan sangat menentukan arah perjalanan menuju Piala Dunia dua tahun kemudian.
Dengan kontrak jangka panjang, Xavi mempunyai kesempatan melakukan sesuatu yang sulit diperoleh banyak pelatih tim nasional: membangun sebuah generasi, bukan hanya mempersiapkan sebuah turnamen.
Proyek Besar Menuju Piala Dunia 2030
Target akhirnya sudah jelas.
Belanda ingin kembali menjadi penantang serius dalam perebutan gelar Piala Dunia 2030.
Oranje memiliki sejarah panjang di turnamen tersebut. Namun, trofi Piala Dunia masih menjadi sesuatu yang belum pernah mereka raih.
Kini tanggung jawab untuk membawa Belanda mendekati impian tersebut berada di tangan Xavi Hernandez.
Bagi Xavi, pekerjaan ini juga menjadi kesempatan membangun identitas baru dalam kariernya. Setelah dikenal sebagai legenda Barcelona dan Spanyol serta pernah menangani Blaugrana, kini ia akan mencoba menulis cerita bersama salah satu negara paling berpengaruh dalam sejarah perkembangan sepak bola modern.
Era Xavi bersama Oranje pun dimulai, dengan Euro 2028 sebagai ujian pertama dan Piala Dunia 2030 sebagai tujuan terbesar.












